Minggu, 13 November 2016

Tuhan Obesitas

Yang perlu dilindungi adalah yang lemah.
Bukan yang kuat.
credit : Jose Chomali | unsplash.com
Waktu kecil, saya diperdengarkan nyanyian dan juga ayat-ayat mengenai betapa besarnya Tuhan itu. Orang-orang di jalan juga tidak mau kalah mengatakan betapa lebih besarnya Tuhan itu. Saya pun berpikir, memangnya sebesar apa sih?

Konon katanya, segala yang ada di sekitarmu itu dibuat oleh Tuhan, makanya beliau itu besar. Bumi berguncang, angin menderu, dan gunung meletus kencang itu gara-gara Tuhan juga loh, wah beliau makin besar lagi. Ternyata, tidak ada akses mudah untuk bertemu melihat Tuhan, waduh doi pasti besar dan penting sekali ya?

Kemudian suatu saat yang biasa saja, ada dua orang yang berada di tempat, waktu, dan konteks yang berbeda. Yang satu salah bicara, dan entah bagaimana caranya, yang lain salah dengar dan salah menginterpretasikan. Apa sih yang dibicarakan? Kudengar di televisi, Big Boss sudah dihina.

Ketika dengar bahwa Sang Besar Sekali itu dihina, hatiku kacau balau. Pasti bumi berguncang, meteor akan jatuh, lahar meluap dari bawah, bahkan tetumbuhan angkat akar dari tanah, Iya dong, bos mana yang terima dihina? Kalau bukan ngamuk, at least kita bisa dengar celotehannya sedikit. Saya takut bukan kepalang.

Tiga jam sejak kabar bahwa Tuhan dihina menyebar luas, tidak ada tanda-tanda dari Surga bahwa beliau tersinggung. Lanjut jadi enam jam, tidak ada tangan dari Neraka yang keluar dan kemudian menyeret siapapun. Yang ada hanyalah statement dari anak buah yang ada di Bumi: "Bangsat."

Kata bangsat itu berevolusi dengan cepat menjadi sekumpulan manusia. Mereka berkumpul dengan satu rasa, satu hati, satu pikiran, dan satu tujuan: Tuhan telah dihina, maka beliau harus dibela.

Sebentar.

Hal ini membuat saya sedikit deja vu. Ingatlah saya pada waktu masih di SD. Saya masih seorang anak yang cengeng, tanpa ada yang pernah membela. Suatu hari saya iseng menyelengkat kaki seorang siswi hingga dia terjatuh dan menangis. Apa yang terjadi? Semua menghibur dia dan menghardik saya, mengatakan bahwa saya beraninya sama perempuan -- yang menurut ideologi patriarki versi dini adalah makhluk lemah.

Melalui metode heuristik yang asal-asalan, saya menemukan kesamaan di antara dua kejadian tersebut:
- Ada yang tersakiti
- Semua orang membela
Kemudian menyimpulkan:
Semua orang membela, karena yang lemah telah tersakiti.
Setelah sedikit melamun, saya merevisi citra dari si boss besar tersebut sambil melihat manusia berbondong-bondong entah kemana menyuarakan bahwa atasan mereka telah sakit hati dan yang dianggap menghina harus dihukum.

Perlu diklarifikasi sebentar.

Saya dan mereka memang beda Divisi, tapi Atasan kita mungkin orangnya sama saja. Ya mana saya tahu, tidak ada anak buah -- kecuali Platinum Member -- yang bisa bertemu langsung dengan beliau. Karenanya, jikalau mereka mendengar ada pengumuman bahwa Pak / Ibu Boss telah tersungging,  harusnya saya juga mendengar. Apalagi kalau ada outing, masa saya ngga diajak? Atau mungkin, ada Divisi yang somehow lebih dekat dengan Direksi maupun RUPS. Mana saya tahu.

Lalu saya coba berpikir positif. Siapatahu bos kami dan bos mereka beda orang. Karena setahu saya. Bos saya dari dulu kalem, doyannya duduk di ruangan dan guyon kanan-kiri. Tapi ya, hati manusia siapa sih yang bisa menebak?

Biar begitu, Bos "kita" tidak sama beraninya dengan mantan Ketua RT yang kalau dituduh macam-macam akan angkat bicara, bikin presscon, kemudian menggerakkan anak-anak buah untuk mengganggu ketertiban umum. Beliau juga tidak berhati sekuat anak remaja yang akhirnya membuat klarifikasi atas lagu yang mereka ciptakan. Bapak / Ibu ini bahkan tidak punya hape untuk merekam dirinya menangisi dunia.


Yang ada hanyalah para anak buah yang begitu inisiatif, tanpa mengetahui isi hati sang Bos, membela-Nya dengan harapan Tuhan tidak bersedih lagi dan memberikan tunjangan khusus bagi yang membela dia.

Tuhan bagaimana sih? Dihina kok tidak pernah muncul? Dikomplain kok yang jawab Customer Service-nya melulu? Mana bukti bahwa Tuhan itu benar-benar besar? Masa dihina sedikit langsung butuh pengakuan dan pembelaan?

Atau ternyata memang benar Tuhan itu besar, tapi tidak sebesar mitos-mitos yang beredar. Tidak sebesar galaksi, lebih kecil dari bulan. Mungkin, Tuhan itu hanyalah seorang anak manja berhati rapuh yang doyan makan ini-itu hingga badannya membengkak melebihi kapasitas kulitnya dan kemampuan tulangnya untuk menahan beban seberat beliau.

That's all.

1 komentar:

  1. Penuh dengan metafora, tapi gua mengerti dan setuju dengan apa yg lu tulis hehehe. Tuhan itu Maha Besar. Hanya mereka yg benar-benar memahami agamanya, yg akan mengerti seberapa besarnya Tuhan itu...

    BalasHapus

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe