Jumat, 28 April 2017

Indonesia Itu Kismin!

Indonesia banyak orang miskin.
Tapi, benarkah Indonesia miskin?




Di jamannya Foke dulu, sempet muncul peraturan dilarang sedekah ke pengemis, kalo ketahuan nanti kena denda. Di zamannya Ahok, daripada didenda mending disuruh bersihin WC terminal. Bentar. Kok aneh? Lho, ngga aneh-aneh amat, karena penghasilan perhari pengemis ataupun pengamen, konon ada yang lebih dari gaji manager. Whoa, kalau artis banyak yang merendah untuk meroket, mungkin mereka bermiskin untuk berkaya. Mantep.

Biarpun begitu, masih banyak masyarakat pra-sejahtera yang tidak seberuntung para pengemis priyayi tersebut. Ada yang bilang, Indonesia beneran miskin lho. Masih banyak yang susah beli ini itu, karena ga punya duit. Banyak yang mau makan, tapi ga bisa mendapatkannya. Rumah? Banyak yang masih menggunakan teknologi eco-friendly (baca: triplek atau bambu sekedarnya). Lho, bukannya Koes Ploes bilang bahwa ada orang yang bilang tanah kita ini tanah surga? Apakah di surga semua ada, tapi kompetisi tetap berlangsung?

Ada beberapa indikator bahwa kita kismin:

Pertama. biar perut sendiri belum terisi, orang kita sering donasi.
Contohnya? Petani dari subuh berangkat ke sawah buat bikin beras dengan susah payah, eh malah didonasikan ke ternak atau orang di wilayah lain, sementara yang bikin belon tentu dapet.

Kedua. Males
Pernahkah bapak, ibu, om, tante, pergi ke Mekah kemudian beli supernir tulisannya made-in-Endonesah? Itulah kondisi kita saat ini. Kita sok pede impor ini itu dari luar, eh padahal bahannya dari kebon sendiri. Contohnya adalah minyak mentah yang diekspor cuma buat diimpor lagi sebagai minyak olahan dengan harga selangit. Kurang usaha buat ngembangin teknologi dan SDM buat ngolah minyak sendiri.

Ketiga, tiap hari makan makanan impor.
Orang Indonesia termasuk cukup belagu tiap hari makan gorengan. Loh, impor dari mananya? Itu kedelai buat bikin tempe sama tahu goreng yang bapak-ibu makan itu dapet darimana kalau bukan impor? Belum sampai disitu, saos kacang buat cocolan gorengan biar bisa asin harus pake garem, yang belum tentu dateng dari laut kita sendiri.

http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/03/07/226-ribu-ton-garam-impor-siap-masuk-indonesia
shedi :"(
Diatas kita lihat, ternyata orang Indonesia miskin bukan karena ga punya harta, melainkan karena lifestylenya yang ga sehat. Meski demikian, Indonesia dalam Angka itu ngga kismin-kismin amat.

Indonesia itu sebenernya punya banyak hal di kantongnya. Kita bisa ekspor berbagai hal. Kita adalah eksportir kelapa sawit terbesar, data statistik menunjukkan angkanya sampai sekitar 25 juta ton hingga 2016 kemarin. Meski kita sedang menghadapi serangan isu negatif terhadap sawit, tidak menghentikan fakta bahwa Indonesia adalah salah satu eksportir terbesar.

http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/01/09/2010-2015-produksi-dan-ekspor-kelapa-indonesia-meningkat
Terus meningkat, bukan?

Selain itu, lagu Rayuan Pulau Kelapa bukan sembarang lagu. Kita ternyata bisa memproduksi dan ngirim sekitar 16,72 miliar butir kelapa ke Belanda and Tiongkok. Selain itu, orang luar negeri bisa makan coklat karena kita yang nyediain loh!

http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/10/13/indonesia-negara-pengekspor-minyak-sawit-terbesar-dunia
ntap soul
Bukankah hal-hal di atas merupakan indikator bahwa sebenarnya kita ini punya banyak hal? Bahkan, masih ada banyak lagi yang dimiliki di Indonesia. Which means, kita punya banyak potensi. Kita cuma perlu mengembangkannya.

Di sisi lain, dengan Pak Pres Jokowi bagi-bagi lahan kepada masyarakat awal April 2017, kenapa kita ngga memproduksi lebih banyak petani dan berusaha agar mereka semua bisa sejahtera? Agak ironis di the so-called negara agraris, petani dalam sehari gajinya ga bisa beli satupun produk Starbucks loh. Kalau banyak petani yang dibuat lebih sejahtera, orang-orang kita ngga perlu jadi buruh pabrik. Produksi sendiri banyak dan lapangan pekerjaan makin luas. Lempar satu batu, sembunyi tangan kena dua burung. Sambil nyelam, minum air. Semuanya bisa dilakukan asal ada keinginan.
Atau... kita ikut aja kata pemangku kepentingan? Yang cuma mau mentingin diri atau kelompoknya sendiri, atas nama apa aja yang bisa dipake? Kemudian hancur begitu saja, dan mereka hilang angkat tangan...


That's all.

4 komentar:

  1. Ironis sekali ya khak!
    Padahal Indonesia itu udah oh so spesyel sekali.
    Apa berarti kita semua juga manja seperti incess Syahrini?

    BalasHapus
  2. Iya, gua di China sini sering liat kelapa Indonesia (yg udah dicuci dan dikupas kulit bagian kasarnya sampai bersih) dijual di supermarket dengan harga nyaris 60 ribu per biji. Ironis ya.

    BalasHapus
  3. Ironis sekali baca ini..
    Kita sepertinya punya kekayaan tapi ga tau gmn mau mengolahnya..
    akhirnya, kita mengexport bahan baku, dan membeli barang yang diolah dr bahan baku kt sndr dengan harga selangit..
    Simply karena kt ga tau cara mengolahnya..

    BalasHapus
  4. iya masa katanya banyak petani di Indonesia ini yang memproduksi berasm, tapi kenapa beras masih beli dari luar negeri, kenapa tidak di majukan di sektor itu :(

    BalasHapus

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe