Senin, 31 Desember 2012

Di Ujung Tebing

Pada bagian gelap hari ini gue duduk diam dengan kaki menggantung dan dihembuskan angin yang tidak terlalu dingin. Titik terang di atas tidak mengambil bagian sama sekali, tapi para titik air menggantikan mereka. Semua nampak kecil dari sini dan sayup-sayup terdengar euforia di seberang sana. Oh iya, enaknya sambil ngerokok, sayangnya gue udah ngga mood buat itu.

Tak ada yang hangat di malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Gue masih sendiri dan cenderung menyendiri. Tak ada perempuan yang bersandar mengantuk di sampingku. Hmm, dia yang kuidam-idamkan ada di sebelah sana, gue enggan menyapanya. Dia sedang berjalan mendekati seseorang yang tak ku kenal. Iri dan cemburu, tapi gue ga ingin memaksakan apapun pada dirinya. Biarlah gue sendiri untuk saat ini, sambil bertanya apakah dia akan berbalik dan setidaknya melihat kepadaku.

Kemudian gue berbaring di atas rerumputan. Tidak, gue ngga lelah. Tenagaku masih cukup sejak malam yang sama di kalender kemarin. Betapa nyamannya bisa berbaring dan memejamkan mata dengan tenang. Saking nyamannya gue jarang menuliskan berbagai hal yang gue alami. Kalaupun ada, yah bisa dihitung jari. Menulis saja jarang, apalagi hal lain. Tak banyak yang gue kerjakan di siang yang lalu. Tak banyak yang gue dapat karenanya.

Namun jujur, banyak yang gue benci. Ah, bahkan mungkin rasa benciku sudah sampai tingkat yang tinggi. Ya, terhadap mereka yang membuatku muak. Pemikiran, sikap, dan tindak tanduk mereka. Bukannya gue sombong atau sok idealis, rasa muak ini terpicu begitu saja. Yang paling memuakkan adalah bahwa selama ini gue hidup di antara mereka dan baru sadar sekarang. Gue pun makin sadar bahwa makin sedikit orang yang patut dihormati di dunia ini. Mereka mencari hormat dengan arogansi dan provokasi yang bodoh. Lebih bodoh lagi ada saja orang yang masih menaruh hormat terhadap mereka dan tabiatnya yang buruk-buruk itu. Berkali-kali kutarik nafas menahan muntah yang mau keluar.

Overall, tak banyak yang perlu kulihat kembali. Lilin yang kunyalakan hanya sedikit dan kegelapan masih menang. Bahkan masih masih kupijak tanah yang gelap dan matahari tak sampai ke awan di atas kepalaku. Tak ada yang menarikku dan tak ada yang kutarik.

Kemudian gue berdiri dan melihat ke bawah. Semuanya masih gelap, sunyi, dan sepi. Mata dipejamkan sesaat dan kutarik nafas panjang. Kuhembuskan lalu lompatlah badanku ke bawah. Kegelapan di belakangku sudah tak terlihat lagi, tak ada yang berteriak ataupun mengulurkan tangannya kepadaku. Diriku masih terhempas di udara. Kutatap langit yang nampak kosong itu. Akankah mereka yang ada di atas sana menghadapkan wajahnya kepadaku?

Ah, gue ga tau.

Seeya everything, fuck you future.


That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe