Jumat, 29 Maret 2013

Trust

...
Apa yang sangat berharga dalam hidup?


Sejauh ini, banyak perubahan dalam hidup gue.
TK sampai sekarang banyak banget yang berubah. Jumlah teman, tempat-tempat, rasa, cara berpikir, dan kepercayaan.

Ah, kepercayaan.

Pas masih kecil, gue gampang banget dikibulin. Gara-gara ini, gue sering banget dikerjain. Pada waktu itu gue masih cengeng, dikit-dikit nangis, tapi tetep aja gue percaya sama kibulan mereka; karena gue percaya orang baik. Akibatnya? Pengibulan terus-terusan dateng. Contohnya ajakan main, dulu sering banget "diajakin" main kesana-kemari dan pas hari H, ternyata udah pada main sehari sebelumnya. Kecewa sih pasti, expected day kok ketinggalan, padahal bukan ane yang salah.

SMP? Temen-temen yang ditemui mulai berubah.
Di sini gue udah jarang dikibulin. Cuma, gue mulai memperhatikan sesuatu yang cheesy yang orang sebut persahabatan. People lied to everybody. Everybody were lying. Gue mengenal istilah "muka dua" di saat itu. A yang bersahabat baik dengan B pernah berkata kepada gue, "Jangan kasih contekan ke dia, lo jangan terlalu baik sama dia.". Gue heran, bisa-bisanya dia bilang begitu di belakang temannya sendiri.

Saat itu gue mulai ngeliat bahwa orang-orang ngga akan seperti apa yang terlihat. Orang baik ternyata penusuk, orang yang kurang baik ternyata lebih bisa diandalkan. Lumayan sulit untuk percaya dengan yang mendekat di saat yang jauh lebih bisa dipegang kata-katanya. Karenanya, gue ngambil jalan pintas: trust nobody. Pura-pura percaya sama orang lain, agar ngga kaget pas dikhianati

Gue ngga berani menganggap orang lain sebagai teman dengan dua alasan: tidak sopan dan berbahaya. Orang lain bebas "nganggep gue temen", cuma gue sendiri ngga. Gue membatasi diri sendir dari memberikan kepercayaan terhadap siapun. Siapapun (kecuali Night dan Tuhan).

Di SMA gue salah besar.
Kacau, semua kacau. Kalkulasi gue kacau. Kacau karena tiba-tiba ada yang bisa dipercaya. Gue harus menjejakkan kembali kaki di jalur yang berbahaya. Sulit untuk memutuskan segala hal, walau sedang bahagia sekaligus sedih.

Sekarang?
Hanya beberapa orang dan Tuhan saja yang bisa gue percaya. Sisanya? Demi perlindungan diri, gue putuskan untuk ngga percaya kepada siapapun yang ada dimanapun. Jauh lebih baik ketimbang membiarkan diri masuk ke dalam lubang.

...

Gue pikir kepercayaan itu sesuatu yang berharga banget. Semua orang minta dipercaya, sayangnya hipokrit sekali. "Percayalah padaku, percayalah padaku!", teriak mereka seperti pedagang kaki lima; tak perlu digubris.

Kepercayaan membuat diri harus bergantung kepada orang lain. Kutukan sebagai makhluk sosial menjebak diri kita sendiri dan semua orang menjadi masokis. Semua menikmati rasa percaya terhadap orang lain dan lebih sering meraup untung darinya. Semua percaya dan kemudian kecewa. Pada akhirnya kepercayaan menjadi jam pasir yang jatuh dan terpecah belah. Kepercayaan kehilangan fungsi dan nilainya. Kepercayaan kehilangan harganya. Namun tidak di mata gue.

Gue memilih untuk tidak mengobral kepercayaan untuk menjaga harganya. Memberikan kepercayaan kepada orang yang pasti tidak bisa dipercaya hanya membuatnya membusuk. Maka menyimpan rasa percaya dalam-dalam jauh lebih baik agar tidak ada tangan-tangan kotor yang berani merusak dan merebutnya.

Segala nilai yang ada di dunia adalah baik, manusia merusaknya.


That's all.

6 komentar:

  1. hmmm agak dalem ya ....
    #udahgituaja

    BalasHapus
  2. Nice, Kak. Hem, tapi mungkin lebih baik kalo kita berpikir positif dulu kali ya ke orangnya. Gue pikir sih tiap orang berhak dapat kepercayaan.

    BalasHapus
  3. suspicious mind won't make any better.

    BalasHapus

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe