Selasa, 09 November 2010

Second post of this day, is a story

Argh, sebenernya gue udah ngeposting entri tadi sore, well karena gue masih punya waktu, gw isi dengan sesuatu. What is that?
Cerpen, tepatnya penggalan cerpen bikinan gue yang masih disembunyikan dari khalayak ramai. Yang mungkin, masih kurang sempurna sama sekali.

Well, I'll juts begin now.

***
-Perjalanan ke Squirrel Town-

Dari asrama, dengan segera kubawa jauh diriku dari tempat itu, tempat orang itu, tempat dimana kau tumbuh, yang sekarang kutinggalkan. Menuju hometown kecilku, tepatnya tempat dimana aku, dan orangtuaku, dulu memulai segalanya, hingga mereka meninggal dan aku masuk asrama, dan menjadi seperti sekarang.

Kutatap untuk terakhir kalinya, gedung asrama yang didahului bentangan hijaunya rumput. Kutatap kamar kami dulu, juga kamar dia. Ya, dia. Seseorang yang menjadi satu-satunya alasan bagiku -yang menurutku benar, dan menurut mereka salah- untuk pergi. Dia yang telah kusakiti, namun mereka sebut "diselamatkan" olehku. Sekarang dia masih terbaring lemas, mungkin. Tetapi telah kutinggalkan semuanya itu. Barang-barang, hadiah, foto, dan kenangan bersama mereka, khususnya Dia. Dengan sakit hati, kuputuskan hubungan kami.

Sekarang kualihkan kesadaranku. Aku sedang ada di bis, menuju hometown kecilku. Kulihat sejenak handphoneku, menunggu sesuatu yang tidak kuharapkan. Kuletakkan hanphone itu disaku. Lalu, aku menatap keluar. Melalui kaca bening itu, padang rumput luas memenuhi latar. Starry Field, tempat dimana kau, dan aku dapat melihat langit beserta isinya dengan jelas. Paling jelas dari mana-mana. Namun tiada seorang pun yang memiliki ide untuk mendirikan observatorium bintang di antara rerumputan itu, kusesalkan dan kusyukuri hal itu.

Di ujung Starry Field, sebelum hutan kecil, sebuah gereja tua yang sudah dipugar masih menunggu disana. Terlihat pendeta sedang menyirami sepuluh pot bunga kecil didepannya, di bawah lonceng tembaga. Sebentar kupandang hutan kecil itu, lalu aku menghela nafas.

Sepanjang perjalanan, di jalan aspal yang rata ini, kami disambut oleh pepohonan. Yang berdiri satu meter dari pinggir jalan, dengan ramahnya sedikit melambai ke jalan dan menjatuhkan dedaunan keringnya untuk menyapa kami sekalian. Di beberapa pohon, masih ada tupai-tupai kecil yang memberi nama untuk hometown kecilku ini.

-Di asrama-

Nicole Theresia, perempuan yang waktu itu sakit, kini sudah dengan leluasa mengaktifkan tubuhnya kembali. Dengan semangat namun perlahan, ia berlajan menuju pintu. Dibukanya pintu itu dengan perasaan tenang. Namun, diluar pintu itu, telah berbaris beberapa orang yang kenal dengannya. Nona Diana, cuma bisa menatap sambil menyembunyikan rasa sedih yang terus saja berusaha nampak. Cipher, Rue, Mhorwa, dan lainnya hanya bersandar di tembok dan menatap sedikit.

Terbaca sudah semua yang ada di pikiran semua orang disana. Pikirannya menuju satu orang. Kekhawatirannya muncul. Segera ia berlari untuk memastikan kekhawatirannya, sambil berharap semua itu salah. Dengan sigap, Nicole membuka pintu kamar itu. Kamar orang itu. Penuh dengan barang-barang, namun kosong dengan keberadaan pemiliknya.

Karena barang-barang itu, Nicole mulai gemetar, sedikit. Harapannya pupus, dan kekhawatirannya terkabulkan.


-Squirrel Town-

Tiga jam sudah aku berada di bis itu. Akhirnya kupijakkan kakiku di tanah lembab ini. Ponselku berbunyi...
Nicole, perempuan itu menelponku juga akhirnya. Kupegang ponselku itu dengan diam, lalu kuangkat...

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe