Senin, 09 Mei 2011

09 Mei 2011

Melampaui hari-hari penantian
Yang dilewati tanpa arti, sendirian

Yeah, lagi-lagi gue harus melewati hari yang kian sepi ini. Setelah lepas ikatan pada saat perpisahan, gue cuma bisa bengang-bengong di rumah tanpa kegiatan apapun. Gue cuma bisa ngeliatin orang-orang yang janjian sama temennya, baik di facebook ataupun twitter. Rasanya, menyenangkan ya bisa bersama orang lain. Gue hanya bisa berpikir demikian.

Sepi, bosan, dan lapar menjadi "Trinity of Daily Life" gue akhir-akhir ini. Yah, gue sempet ngerasa bahwa gue udah ngga punya teman lagi setelah acara perpisahan tadi. Yang ada cuma ngumpul, ngambil surat kelulusan yang dinanti-nanti, dengan harapan kata "LULUS" yang akan tertulis di sana. Ok, terlepas dari masalah kelulusan, setelah itu, gue akan berteman dengan siapa? Orang-orang akan lalu lalang di depan gue tanpa menyapa gue. Yap, pergi ke sekolah untuk mengurusi ijazah. Di sana orang-orang akan mengurusinya sendiri-sendiri, ngga akan ngajak yang lain, kecuali teman dekatnya. Gue, palingan akan ngurusin itu sendiri nantinya jika gue lulus. 

Mungkin gue cuma galau karena beberapa hal yang berputar-putar di otak gue. Atau mungkin gue cuma ngerasa kesepian, sendirian di kamar dari pagi hingga sore. Tiduran, dan internetan. Well, sebenernya gue tadinya udah terbiasa dengan suasana sepinya hari-hari gue. Tapi mungkin karena expectation gue terhadap yang namanya persahabatan itu ketinggian, gue jadi ngerasa sepi. Sepertinya gue harus menurunkan harapan gue terhadap persahabatan. Lebih kecil. Lebih kecil lagi. Sehingga tinggal sebuah harapan yang sangat kecil.

...

Agak melenceng sebentar dari main topic.
Gue baru aja ngubah banner gue, well pastinya ngga bagus. Banner tersebut dengan iseng gue bikin. Yah, setidaknya menyampaikan ekspresi gue kepada kanvas digital, sehingga hasilnya merefleksikan apa yang ada di perasaan dan pikiran gue. 

Di gambar yang ngga terlalu bagus itu, terlihat ada beberapa tokoh yang menempati ruang putih tersebut. Namun, bisa dilihat masih ada space-space kosong yang mungkin semestinya di isi dengan beberapa benda kecil. Itu sengaja gue lakukan. Karena di tengah-tengah crowdednya hidup gue, gue cuma berdiri di space kosong yang ngga penting, bingung, harus bicara dengan siapa. Yah, pasti kakak-kakak dan para senior yang jauh lebih jago daripada gue dalam hal menggambar, akan mengatakan pandangan yang berbeda akan gambar itu.

Tapi dengan penuh hormat dan maaf, gue akan ignore perkataan kalian semua.

...

Balik lagi ke kehidupan gue.
Gue sempet berpikir bahwa: "gue ngga akan punya temen, yah setidaknya sampai kuliah nanti". Kadang, gue membenarkan pemikiran yang melesat sesaat di otak gue waktu itu. Buktinya, gue ngga ada teman bicara sejak perpisahan. Smsan, ngga ada yang niat. Chattingan, 2-4 kali bales, menghilang. Akhirnya gue cuma bisa mengintip dari jendela, anak SMA yang ngumpul di dekat rumah gue. Mereka bahagia sekali.

Gue kembali duduk. Nonton beberapa video di YouTube dengan harapan ini semua menjadi nonsense. Gagal total. Gue masih aja ngerasa sepi. Gue menghela nafas, dan membuangnya. Menjauhkan diri dari laptop, memainkan ponsel gue yang butut ini sebentar. Memutar-mutarnya, lalu melemparnya ke kasur.

Sebenarnya gue pengen keluar dari rasa sepi ini. Tapi, apa boleh buat. Seperti kata Saïx:
"Nobodies have no any feelings such as friendship. What you're searching for is an illusion caused by the memories of those around you." - Saïx (lihat disini)
Dan gue adalah nobody. Seharusnya dari dulu gue nyadar akan hal itu


That's all

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe