Senin, 21 November 2011

Anak Karung

Bukan tumpukan bata yang besar. Bukan pula kardus yang bisa basah.
Hanya karung.

(sambil baca dengerin lagu ini)
102 FINAL FANTASY XIII - The Promise by Final Fantasy 13


Ibunya meninggal, bapaknya tiada. Saudaranya pun tak tau tersasar ke mana.
Cuma boneka chocobo kecil yang tidak kabur dari hidupnya.

Topi coklat punya ayahnya. Jaketnya hadiah natal setahun yang lalu.
Dasi kupu-kupu taman kanak-kanak.

Umurnya 8 tahun. Menjual koran dari pagi sampai sore, lalu makan roti dan minum susu di kedai.
Jika ada yang kasihan, dia bisa dua kali makan.

Sambil berjualan dia main ayunan. Pergilah dia setelah lima belas kali berayun.
Lanjut berjualan lagi.

Enam hari lamanya dia bekerja, hari ketujuh dia malu-malu ikut sekolah minggu. Tiga koin sehari.
Satu untuk roti, satu untuk susu, satunya lagi disimpan dibawah batu.

Pernah ia telah menabung dua puluh koin di dalam kantung. Naas, diembat anjing dan dicemplungkan ke got.
Berkotor-kotorlah ia nyebur, namun tidak mendapatinya.

Sepatunya lapar. Jempolnya mengintip-ngintip dunia.
Kakinya dingin kalau kena angin.

Kalau hujan, dia nitip korannya di pos satpam. Badannya tetap basah sampai besok.
Kedinginan sampai lusa.

Pak satpam kasihan, ingin diangkatnya anak yang tak ia miliki. Ingin, tapi tidak bisa.
Ditolak secara polos karena takut lupa keluarga.

Tak pernah ia lewati sekolahan. Bukan karena dia malas belajar.
Dia takut nanti nangis, kalau-kalau melihat anak lain yang tidak semalang dia.

Kalau ditanya rumah, dia bilang dibakar. Kalau ditanya rumah, dia bilang diambil Tuhan.
Kalau ditanya rumah, katanya ada di kantung.

Sore hari, dia makan roti dan minum susu hangat. Dia begitu bahagia memakannya.
Walau sebenarnya ia lupa, apa yang mulutnya rasa di masa lampau.

Pada malam hari, orang-orang masuk rumah. Pada malam hari, orang-orang menghangatkan diri.
Dia cuma diam di gang itu, diterpa angin malam.

Karung besar yang tak bisa basah diambilnya dari dalam kantung. Dan meringkuklah ia di dalamnya sambil memeluk sahabatnya.
Tiap hari, melewati malam yang kadang bikin nangis.

Sebenarnya, dia masih lapar. Dia butuh semangkuk sup yang lebih hangat daripada roti kering.
Sayang, dia terpaksa mensyukuri keadaan.

Sebelum tidur, dia berdoa. Berdoa agar ia masih bisa hidup sampai besok.
Lalu menyanyikan lullaby sendirian.

Di dalam mimpi, ia begitu bahagia. Main bersama orang tua dan saudaranya.
Seolah hidupnya barusan cuma mimpi.

Di mimpinya, tidak ada malam yang dingin. Di mimpinya, dia tidur di rumahnya yang hangat.
Di mimpinya, dia tidak sadar itu semua cuma mimpi.

Padahal hujan deras sekali. Basah dan dingin mengganggu malam.
Tulang pun seperti ditusuk-tusuk.

Bangun-bangun, dia tidak berjualan. Dia ngeloyor pergi membawa karung dan sahabatnya.
Korannya diacak-acak kucing.

Sekarang dia ke belakang gereja. Ada ayah dan ibunya di bawah tanah yang dipijaknya.
Terus dipeluk-peluknya nisan kayu yang enam tahun lebih muda darinya.

Kemudian dia tiduran dan tutup mata di atas rumput. Di tengah ayah dan ibunya.
Seolah di atas tempat tidur, di bawah selimut.

Katanya dia lelah. Katanya dia capek.
Dia bertanya kepada Tuhan yang ada di hatinya.

"Tuhan, boleh bawa mama ke sini ngga?", Tuhan diam. "Tuhan, boleh bawa papa ke ngga?", Tuhan diam.
"Dua-duanya ngga boleh?", Tuhan masih diam.

Nangislah anak itu, sambil tetap merengek-rengek. Tuhan kasihan lalu tersenyum.
Berhentilah tangisan anak itu.

Di dalam tidurnya, Tuhan menariknya. Dibawanya ke ayah dan ibunya.
Dia bilang ke Tuhan, "Boleh ngga aku ngga pulang-pulang?".

"Ini rumahmu, nak. Rumahmu bersama-Ku di sini.", kata Tuhan. Tersenyumlah ia di dalam matanya yang tertutup.
Rasa dingin dan pening semalam sudah hilang.

Tadi siang, dia tidur di atas rumput. Di tengah kuburan ayah dan ibunya.
Juga karung yang menyelimutinya.

Sekarang, dia tidur di tengah ayah dan ibunya. Karung tidak lagi menjadi selimutnya, namun tanah yang berumput.
Karung itu sudah entah ke mana.

Sekarang ia bahagia. Ditinggalkannya derita itu di dalam karung itu.
Sekarang dia tidur selamanya dan tidak bangun lagi untuk berjualan koran.


That's all.

22 komentar:

  1. ya gatau deh riz. salahi supir bis yang nyetel lagu sedih tadi pagi U_U

    BalasHapus
  2. touched._.
    sedih trnyata tulisannya...

    BalasHapus
  3. Ngena banget deh beneran. Sedih euy ;_;

    BalasHapus
  4. critanya bkin gue mo mewek..
    kesian tuh bocah,
    tpi disana,ia dapat brtmu lg dgn orangtuanya,meski dalam konteks 'tak bernyawa'... :)

    BalasHapus
  5. turut berduka atas meninggalnya karungboy (eh)
    :mewek

    BalasHapus
  6. sedih abis, kata-katanya nyihir banget ngebuat orang jadi sedih

    BalasHapus
  7. sedih pas terakhir2 u,u
    yang waktu nanya sama Tuhan keren bang :')

    BalasHapus
  8. sukses buat gue terperangah, kasihan, campur aduk.
    tingkatkan ^^
    keep blogging

    hobi ngeblog dapet duit, kamu juga bisa
    lihat di blog Fridi Graphic

    BalasHapus
  9. jleb banget. merinding bacanya :'(
    itu bikin sendiri? kereeen euy \y/

    BalasHapus
  10. sedih , ceritanya dalem . gak tau kenapa malah inget gadis penjual korek api :(

    BalasHapus
  11. mampir lagi, masih ngebuat terperangah sama post di atas
    di tunggu post berikutnya :)


    Fridi Graphic

    BalasHapus
  12. kemudian datang tukang kebun kuburan, bawa penyiram air dan disemprotlah anak itu hingga terbangun

    BalasHapus
  13. sedih koq bacanya....
    gak nyangka.....
    itu kamu sendiri ngalaminnya ya? :P

    BalasHapus

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe