Rabu, 24 Februari 2016

Pernikahan dan JKT48

Masalah dalam hubungan atau rumah tangga tidak boleh diumbar.
Katanya, katanya.

pernikahan, hubungan
source: unsplash.com

"Institusi sosial yang merupakan landasan yang mendasar dari kehidupan kemanusiaan. Dua individu dengan jenis kelamin yang berbeda saling tertarik melalui kekuatan insting yang misterius, saling mencintai dan komitmen dengan bebas dan total, pada masing-masing untuk membentuk unit kreatif yang dinamis, komunitas mikro yang disebut keluarga" - Landis (1975)

Secara jujur, gua gatau itu Landis siapa, tapi setidaknya bisa menggambarkan apasih pernikahan itu. Pernikahan itu bukan sekedar ke rumah ibadah, buang-buang duit, nyalamin orang asing, dan ngento kemudian. Dahulu pas daku masih ikut katekisasi, pernikahan itu adalah sesuatu yang suci dan berhubungan dengan prokreasi a.k.a beranak-pinak.

Hal lainnya yang sering kudengar tentang pernikahan adalah: jaga masalah rumah tangga anda di bawah atap rumah anda saja. Artinya, meski curhat adalah salah satu cara membuat pikiran lebih jernih dalam menghadapi masalah, tetep ngga bagus sharing masalah rumah tangga ke orang lain atau publik. Namun, ini mungkin tidak applicable buat artis-artis ibukota yang nampaknya tsundere sekali jika hubungan pernikahannya dipertanyakan: ngga seneng rumah tangganya diusik publik, tapi seneng juga kalau jadi center of attention.

Sehubungan dengan ini, belum lama ini beredar skrinsut tentang seorang istri yang marah-marah di Twitter. Kenapa? Karena suaminya ketahuan ngidol JKT48. Biasa saja? Lah, kata sang istri, bahkan sang suami tidak verduli kalau anaknya sakit, yang penting jadi ngevvota lancar jaya.


Skrinsutan tersebut dibikin viral oleh laman 48 Family Indonesia. Sayangnya postingan di laman tersebut sudah dihapus, tapi skrinsutannya masih berserakan di internet. Untungnya sudah nangkring di sebuah blog senada.

huehuehue

Malang sekali nasib mz Johan yang ketangkep basah istrinya - kurang dari 6 jam - telah... selingkuh...? Eh, maksiat...? Eh, apa foya-foya...? Nyang penting doski telah bikin istrinya sakit hati saat anaknya sedang sakit. Ngidolnya yang pernah lancar jaya pun nampaknya sudah jadi kenangan di masa lampau. Shedi shedi.

Btw, sesuatu yang viral tidak cukup jika sekedar bikin orang penasaran pengen liat, tapi juga pengen ikutan mbacot.

mantep
Bisa keliatan banyak yang mojokin doi. Mungkin sebagian memang kepo bukan karena ini urusan pasutri, terutama oleh mereka yang mungkin masih jomblo, melainkan karena ada urusannya sama idola mereka: JKT48. Sedikitpun jangan ada orang yang mengasosiasikan JKT48 atau keluarga 48 lainnya dengan hal-hal yang kurang baik seperti pelacuran ataupun maksiat. Hail vvota.

Meski demikian, ada juga yang cukup arif dan bijak...

...meski terlawan pula hue.
Kejadian mba Qiqi dan mz Johan ini lumayan menarik.

Kenapa?

Karena bisa diliat betapa keponya manusia terhadap hal yang tabu, dalam hal ini rumah tangga orang. Etapi, kaga gitu salah juga. Karena emang nangkring di sosial media, yang open, sebelum akhirnya akun mba qiqi digembok.

huehue
Bener kata mba Qiqi, do you even ask permission to stalk mba Qiqi's account? Lah ini kembali lagi kepada logika: "kalo gamau diliat, jangan diumbar di sosmed". Benarkah? Oh bentar dulu. Logika yang sama juga sering diterapkan kepada beberapa bidang lainnya; kalo gamau dicopas orang, jangan diposting di blog; kalo gamau diperkosa, jangan pake baju yang terbuka; kalo gamau dimalingin, ya disimpen. Intinya: kalo gamau jadi korban, ya jangan jadi korban

Lah, apakah masyarakat kita memang segitu masokisnya?
Sebelum pikiran kita melanglang buana, mari kembali fokus ke rumah tangga mba Qiqi. Ada beberapa poin di sini:
  1. Mba Qiqi ngetweet soal masalah rumah tangganya tapi belon digembok waktu itu
  2. Kelwarga vvota nemuin tweetnya dan disebar, sebelum kemudian dihapus
  3. Rangorang kepo dan gengges, herew
Dari poin itu, mungkin anda bertanya, "Lantas siapa yang harus dipersalahkan?". Wah wah wah, spoken like a true politician. Kalau mz mb nongton tipi "berita", kita bisa lihat bahwa setiap masalah yang harus dicari adalah siapa yang harus disalahin, bukan pemecahan masalahnya. Kalau udah ketemu siapa yang salah, yowis, tinggal ganti sama orang yang katanya "bisa memecahkan masalah". Hebat bukan?

Di sini kita bisa lihat, bahwa apa saja yang kita umbar di sosial media bisa menjadi berita, atau setidaknya bahan omongan. Mulutmu harimaumu, seperti yang diungkapkan om Deddy Corbuzier melalui tindakannya terhadap mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Bedakan dengan sensasi, dimana memang ada aja orang yang sengaja bacot biar diperhatikeun.

Yang kaya begini jangan dijadiin kesempatan jadi terkenal. Meski kamu terkenal nantinya, keberadaan kamu di dunia ini belum tentu bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Di sisi lain, arus informasi yang kian cepat bikin kita, katanya, ngga kuat nahan arus informasi. Okelah itu kalo kita yang dicekokin. Kalo kita yang kepo, itu lain ceritanya. Kamu ngepoin, terus dengan rasa horny kamu sebarin info tersebut dan hapus setelah ejakulasi kemudian. Bener-bener otak kelamin. Urusan rumah tangga mba Qiqi dan mz Johan, bahkan artis, maupun pejabat itu bukan urusan publik. Artis bukan role model, pejabat apalagi. Kaga penting sama sekali. Bahan onanimu pun masih lebih baik kamu cari di situs hentai, bukan gosip.

Memang, berpakaian terbuka itu bagi suatu norma dan nilai tertentu itu ngga sopan. Namun, lebih ngga sopan lagi kalau kamu - yang tahu itu tidak sopan - malah memanfaatkannya demi urusan kelamin anda. Sama dengan informasi, mengumbar informasi diri memang vulnerable, tapi memanfaatkannya tetap kaga baik.

I don't know what I'm writing.


That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe