Kamis, 21 April 2016

Hari Kartini: Status Quo dalam Kebaya

Ingatlah Kartini akan jasanya.
Melalui apa? Kebaya.
google doodle

Google Doodle tertanggal 21 April 2016 - di Indonesia menampilkan R.A. Kartini yang disebut-sebut sebagai perintis kesetaraan gender di Indonesia. Lihat saja di Wikipedia, situs berita, sosial media, dan buku pelajaran kamu yang mungkin udah kamu tinggalkan, banyak karya dan kehebatan Kartini yang dimuat. Menggugat cara beragama, menggugat diskriminasi, dan - selain menggugat -  mendirikan sekolah bagi gadis desa. Di tengah-tengah penjajahan dan pekatnya patriarki di Indonesia saat itu, beliau ngga kepingin sama seperti dunia. Wuhih sekali bukan?

Lama setelah beliau meninggal, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia no. 108 tahun 1964, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari lahirnya jadi hari nasional. Bener-bener cihuy.

Apalagi yang lebih dari wuhih dan cihuy mengenai beliau?
Manusia yang sekarang ini hidup di Indonesia dan setiap tahunnya merayakan Hari Kartini.

Iya dong, di sekolah dulu, guru suka banget ceplas-ceplos ngomong betapa hebatnya doski, betapa anak-anak cewek jangan mau kalah dari cowok, dan betapa mantapnya potensi yang dimiliki para cewek kalau diberikan kesempatan. Wah-wah-wah. Apakah dengan demikian anak-anak kecil tetiba jadi feminis dan ga kepikiran buat kawin? Belum tentu. Kok?

Sedari kecil, yang daku dengar mengenai perayaan Hari Kartini biasanya meliputi:
Sedari kecil pula aku bingung dan bertanya:
Mana...mantapnya Kartini?
Daku malah jadi tau kalo Kartini itu pake kebaya sama konde melulu, mungkin juga demen nyanyi, pinter masak, atau juga punya hobi jadi florist. Bener-bener biasa banget kek cewek-cewek laennya. Dimana gregetnya?

Terus kenapa kalo Kartini biasa banget di mata lo?

Ga ada apa-apa. Sebetapa besarnya potensi para perempuan, emang harus inget kalo kodratnya cewek: jadi emak-emak. Dinikahin, dikawinin, dihamilin, ngebrojol, dan netein.

Selain itu, cewek mending di belakang atau di bawah cowok; alias di dapur atau di kasur. Iyelah, sebaik-baiknya wanita adalah yang wani ditata. Setidaknya, bisa buang karir dan jabatan biar jadi ibu rumah tangga yang baik merangkap baby sitter, koki, cleaning service, dan pekerjaan dengan gaji di bawah UMR lainnya.

Bayarannya untuk wanita?

Lho lho lho, ga ada lah. Memang sudah kodratnya ngapain minta upah. Jadi sesuatu kok ga tau diri.

Selain itu, tahukah kenapa cowok selalu salah? Karena cewek ga terima disalahin mulu. Seperti apa? Diperkosa tanpa saksi, eh ditimpukin. Diperkosa dengan saksi? Tetep dikucilin lah, lagian kaga nurut sih disuruh nangkring di dapur. Semua kesalahan ada pada korban. Dengan begini sudah jelas bahwa kesetaraan gender sudah diterapkan bagi kedua pihak: dua-duanya salah.

Kemudian? Kartini tidak usah begitu dielu-elukan karena kita masih punya nilai-nilai kita sendiri. Contohnya adalah menikahkan anak perempuan anda sedini mungkin, punya istri sebanyak-banyaknya karena iman kita emang udah selevel Nabi, dan pastikan perempuan yang anda nikahkan memegang teguh kodratnya: sebagai tabung produksi anak.

Jadi, negeri kita ini kocak. Sudah semaju ini tapi masih berusaha untuk maju?
Terus, harus berapa ratus tahunkah Kartini tidur?


That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe