Sabtu, 26 Maret 2011

Fake Hope

Harapan palsu, emang menyakitkan.
Atau mungkin, kita aja yang kegeeran?

Akhir-akhir ini, gue agak sering ngeliat orang-orang nge-post atau nge-twitt tentang harapan palsu. Biasanya sih cewe yang nulis (dan gue belum liat versi yang ditulis cowok). Isinya itu tentang, hatred. Kenapa hatred? Soalnya isinya itu agak kasar, dan ditujukan kepada seseorang (yang mungkin emang beneran) jahat ngelakuin itu. Minimal ditulis dalam satu kalimat panjang. Beserta beberapa tanda seru ataupun emoticon sedih atau marah.

Gue agak tertarik dengan hal itu.

Mengapa ada saja orang yang berbacot ria serta curcol gembira di facebook atau twitter tentang masalah harapan palsu?

Banyak orang yang suka terhadap seseorang. Contohlah si A, dia suka sama si B. Karenyanya, si A ngedeketin si B sampai akhirnya ia bisa bersahabat dekat dengan si B. Selama menjalin hubungan PDKT tersebut, si B memberikan kesan-kesan yang ditangkap A lalu diterjemahkan sebagai sebuah sinyal cinta. Sampai akhirnya si A mencapai klimaksnya. Oke, bukan klimaks yang itu. Tetapi klimaks perasaan si A. Yap, A merasa cintanya sudah meluap dan berasumsi bahwa si B juga cinta kepadanya. Nah-ah, disini terjadi 3 macam scene:
  1. Si B ternyata nembak orang lain.
  2. Si B ditembak orang lain dan menerimanya.
  3. Si A nembak si B, eh tapinya si B nolak dengan alasan menggenaskan: "Kita cuma temen, selama ini gue biasa aja ke elo kok."
Setelah itu, mereka, para manusia yang senasib sepenanggungan derita hati seperti si A biasanya langsung curcol ga jelas. Atau lebih tepatnya marah di tempat yang kurang tepat. Yaitu social network. Biasanya nulis begini:

"Dasar cowo bajingan!!! Bisanya ngasih harapan palsu aja!!!"
"Kampret! Ternyata selama ini dia cuma mainin gue doang! DASAR PENGUMBAR HARAPAN PALSU!!! Mati aje lo!!!"
"Hiks-hiks-hiks... ternyata selama ini dia cuma ngasih harapan palsu aja ke gue. Hiks :'("
"ToT ternyata dia cuma ngasih harapan palsu aja... TOT!!!"


Saat gue ngeliat tulisan-tulisan yang seperti itu, ada satu kalimat yang langsung terbesit di pikiran gue:

"Apa bukan lo yang kegeeran?"

Sebagai orang yang waktu itu belum terlalu ngerti dengan istilah Fake Hope, gue cuma diem aja. Lalu pada akhirnya gue pun melakukan sebuah usaha untuk lebih mengerti tentang Fake Hope. Gue tanya sana-sini, sms sana-sini, dan nyari di google dan kaskus.

Sampai akhirnya gue menyimpulkan bahwa Fake Hope adalah sebuah harapan bagi seseorang untuk memiliki orang yang disukainya, yang sebenernya ngga ada atau hanya dibuat-buat, (atau mungkin hanya imajinasi kita saja) saat kita berharap bisa memiliki orang lain (yang dianggap memberikan Fake Hope). Dan Pemberi Harapan Palsu adalah:
  1. Orang yang emang sengaja ngasih harapan palsu. Cuma demi kesenangan pribadi belaka.
  2.  Orang yang sama sekali ngga ada tujuan buat ngasih harapan palsu, tapi disama-samakan dengan orang jahat oleh orang yang kegeeran.
  3.  Orang yang emang ingin mencoba mendapatkan kita, tetapi dia juga sedang mengincar orang lain (karena mungkin tidak terlalu berharap kepada kita).
Setelah gue dapet semua kesimpulan yang bersifat sementara itu, gue pun belajar sesuatu.

Fake Hope emang sakit. Gue tau gimana rasanya suka sama seseorang dan saat kita belum sempat mengatakan suka, dia malah pacaran sama orang lain. Sakit banget. Tapi, sebagai manusia yang punya otak kanan dan kiri (serta intelligence yang cukup) serta kemampuan beradaptasi, seharusnya kita bisa move on dan tidak meluangkan waktu untuk marah-marah kepada orang yang kita anggap seperti Pemberi Harapan Palsu. Karena mungkin, emang kitanya aja yang kegeeran.


That's all.

P.S: Correct me if I am wrong

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe