Minggu, 24 April 2011

Menuju Perpisahan...

Tiga tahun sudah lewat, yeah
Tapi seolah kemarin baru ikutan MOPD...

"Dang"s and "Yeah"s.
Semua itu berulang kali terucap di kepala gue.

Hari sabtu, tanggal 30 April ini, siswa-siswi kelas XII SMAN 1 CIBINONG Angkatan 2010-2011, akan melaksanakan, atau tepatnya menghadapi perpisahan. Bagi sebagian orang yang, well mungkin ngga betah atau sok-sok ngga betah, mungkin ini cuma rutinitas aja sebelum lulus. Tapi, kepada mereka yang mendapatkan sahabat-sahabat dan orang-orang yang mereka sayangi di sekolah ini, perpisahan adalah sesuatu yang (agak) berat.

Well, pasti banyak yang bilang kalau apa yang gue tulis ini berlebihan.
It's ok, I accept it.
Tapi, yah, gue nulis sesuai dengan apa yang gue pengen tulis, berdasarkan apa yang terus menerusjadi uneg-uneg di kepala gue. So, kepada mereka yang ngga peduli: I care nothing of your useless bad opinions from your meaningless filthy mouths. (No Offense).

...

Well, perpisahan bisa jadi sebuah langkah awal menuju kehidupan baru di tempat kuliah. Kita lepas seragam kita, dan kita akan mengikuti kuliah yang lebih dewasa. Yeah, kita semua berharap bisa lulus sekolah dan gather kembali sebagai orang-orang yang sudah sukses nantinya. Tidak ada orang yang mau jadi pelajar SMA abadi.

Mungkin ada yang mau jadi pelajar SMA abadi. Itu ngga bisa dipungkiri.

Hal ini bukan berarti kita ngga mau lulus.
Bukan berarti kita ngga mau repot-repot kuliah dan menunda kedewasaan kita untuk selama-lamanya. Tetapi artinya adalah, ingin terus selamanya berada di SMA karena kita memiliki kenangan indah dan sahabat baik yang mungkin ngga akan kita dapatkan di kehidupan berikutnya. Well, ngga salah kalau ada yang bilang kalau masa-masa SMA itu indah. Karena memang adanya. Kecuali bagi mereka yang setiap harinya di-bully oleh orang-orang yang kurang kerjaan di SMA.

Setahu gue, dari yang sering gue denger dari telinga gue akhir-akhir ini.
Agak banyak yang ngga mau ikut perpisahan karena ngga kuat untuk berpisah. Yeah, gue lihat, kekompakan tiap-tiap kelas memang sangat erat. Bahkan memiliki nama panggilan kesayangan masing-masing di kelas. Sudah ngga kelihatan sebagai teman satu sekolah lagi, tetapi seperti orang-orang yang bersatu, membentuk sebuah organisasi informal:

Sebuah keluarga.

Yeah, pasti ini terlihat berlebihan.
Untuk mengatakan bahwa sebuah perpisahan itu hampir seperti sedang menghadiri sebuah pemakaman. Bukan karena suasananya spooky atau bagaimana, tetapi kita diharuskan rela untuk berpisah dengan orang yang kita sayangi. Coba pikirin, apa lo mau diwajibkan untuk berpisah dengan orang yang lo sayangi (atau secara diam-diam lo cintai)?

Tapi, yang lebih menyakitkan saat perpisahan daripada pemakaman adalah:
"Dalam pemakaman, kita sudah tahu bahwa kita takkan bertemu lagi selamanya. Kita berhenti berharap. Tetapi dalam perpisahan, kita tidak tahu akan bertemu lagi atau tidak. Karenanya kita berharap. Dan berharap itu lebih sakit."
...

Gue kayanya ngga bisa membacot lebih panjang lagi, karena gue juga udah speechless.
Ok, guys, ayo kita hadiri acara perpisahan ini dengan sebaik-baiknya.

Menangislah kalau mau menangis. Biarkan temen lo tahu kalau dia berharga bagi diri lo.
Terimalah maaf dan pelukan tiap orang agar lo tahu, seberapa banyak yang sayang sama lo.
Dan yang terpenting:
Katakanlah apa yang belum terucap sebelum menyesal.

That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe