Rabu, 15 Juni 2011

Alasan Oblivion?

Bermula dari sebuah pertanyaan simpel dari anak manusia, "Kenapa lo jalanin Project Oblivion?".
Dan semua berlanjut.


Hmm. Bagaimana untuk memulai ini...

Well, kemarin ada seorang teman bertanya demikian setelah membaca postingan gue yang udah dipublish beberapa saat yang lalu. Pada saat dia menanyakannya, gue belum bisa memberikan jawaban yang lengkap. Pada saat itu gue ga mau ada yang ikutan tau urusan Project Oblivion ini (walau ternyata gue expose di blog juga). Tapi, akhirnya gue mau jelaskan hal itu disini walau sudah dilarang oleh Night. Sang penuntun gue menuju selesainya proyek ini.

Well, karena ini mungkin bakalan direct menuju kepada satu atau beberapa orang, akan gue bikin agak rancu tentang penyebabnya dan siapa saja yang terkait.

Ehm.

Begini. Semenjak perpisahan, yap tentunya udah ga ada kegiatan bareng 'temen-temen' satu sekolahan lagi. Kita semua uring-uringan kesana-kemari atau hanya merenung di rumah karena baru saja kehilangan rutinitas harian seperti dulu. Yang terjadi pada diri gue adalah diam di rumah, ga punya temen, ga ada yang bisa diajak ngobrol, ga ada yang ngajak jalan sementara tiap hari cuma bisa ngeliat orang-orang pada rame-rame jalan-jalan, intinya gue bosan dan kesepian.

Oke, gue tau betapa memalukannya hari gini masih kesepian aja. Tapi, ya, emang guenya kesepian. Kesepian di sini berarti ga ada teman, ya pokoknya begitulah. Karenanya gue sering banget curious nanyain kabar orang, mau kemana, gini-gitu, ngebacot nasihat, oh-so-cari perhatian, dan lain-lain. Alhasil beberapa ada yang ga suka dengan kelakuan gue yang begini. Indirectly mereka menyatakan ketidaksukaannya terhadap kelakuan gue itu, atau, mungkin karena gara-gara udah ga satu sekolah lagi yang menyebabkan udah ga punya hubungan 'teman' lagi, keberadaan gue cuma jadi semacam pengganggu kehidupan mereka beserta teman-temannya yang menyenangkannya.

Gue pun merasa bahwa gue sepertinya (atau memang) udah ditolak mentah-mentah dari dunia mereka. Karenanya gue yang juga (merasa atau kenyataannya) ga bakal bisa 'temenan' lagi sama mereka, memutuskan untuk mengundurkan diri dari 'pertemanan' itu. Gue juga ga mau terus-terusan mengganggu mereka, gue mau mereka hidup tenang dan bahagia tanpa gangguan dan keberadaan gue. Gue pun minta tolong sama seorang teman yang disebut, Night. Sebelum kami melaksanakan ini, Night sempat meminta gue untuk berpikir dua kali, tapi gue tetap mau maju. Night juga terlihat agak ga setuju dengan keputusan gue ini.

Awalnya kami masih repot karena gue masih aja sering galau atas penolakan tersebut, dan gue masih berpotensi untuk mengganggu mereka lagi. Alhasil kami menemukan penyebabnya, yaitu ingatan. Segera setelah mengetahuinya, kami memutuskan untuk menghapus ingatan sedikit demi sedikit namun intensif. Ingatan apa? Ingatan, atau tepatnya kenangan gue di masa SMA. Semua yang menyenangkan, beserta 'hubungan' gue dengan beberapa 'teman'. Project: OBLIVION, begitulah kami menyebutkan tindakan yang kami lakukan.

Dan proyek ini mulai berhasil.

Gue sudah mulai dan terus bisa melupakan semuanya, semua ingatan tersebut. Semua ini dilakukan semata-mata agar:
  1. Gue bisa menerima perpisahan sekolah
  2. Gue bisa berhenti merasa sepi
  3. Gue bisa berhenti ngerasa sakit hati
  4. Gue bisa berhenti mengganggu kehidupan para mantan 'teman' satu sekolah
  5. Gue bisa membantu para mantan 'teman' satu sekolah bersahabat baik dengan mantan 'teman' satu sekolah lainnya, serta teman-teman baru yang lebih asyik yang mereka temui di tempat kuliah
Yap, itulah tujuan gue melakukan proyek tersebut. Ridiculous? Memang, tapi ini harus agar orang-orang bisa merasa nyaman.

Well, itu semua penjelasan gue tentang alasan Project: OBLIVION yang mungkin konyol di telinga dan mata kalian, para manusia. Karenanya, gue akhiri tulisan ini.


That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe