Senin, 14 November 2016

For the Love of God

God loves children.
Human doesn't.
credit : Annie Spratt | unsplash.com
Saya punya seorang keponakan yang saya anggap sebagai adik saya sendiri. Kami sempat hidup serumah hingga dia berusia dua tahun. Masih jelas rasanya tinggal dengan manusia yang baru memulai, dan masih murni.

Saya ingat bagaimana dia tersenyum.
Saya ingat bagaimana dia berlari kesana-kemari.
Saya ingat bagaimana dia suka sekali bermain di luar rumah.
Saya ingat bagaimana dia senang makan banyak.
Saya ingat bagaimana dia mencintai binatang, terutama kucing.
Saya ingat bagaimana dia terjatuh, tapi berdiri lagi sambil tertawa.
Saya ingat bagaimana dia senang dipeluk dan digendong.
Saya ingat bagaimana dia butuh digendong lima menit saat bangun tidur.
Saya ingat bagaimana dia memanggilku di balik pintu, mengajak main.
Saya ingat bagaimana dia bertanya kepada yang lain tentang keberadaanku.
Saya ingat bagaimana dia meneriakkan namaku di saat dunia menentangnya.
Saya ingat bagaimana dia menghampiri saat kubuka pintu kamar, menjawab tangisannya.
Saya ingat bagaimana dia seketika berhenti menangis saat ku datang.

Mungkin itu yang juga sekarang hanya bisa diingat oleh orang tua Intan Olivia Marbun, karena Tuhan begitu mengasihi Intan. Belum sempat Intan melihat kejamnya dunia, Tuhan segera menutup matanya dan membawa Intan pulang.

Saya tidak tahu apalagi yang bisa diucapkan. Tidak hanya di medan perang, di depan gereja pun buah hati bisa hilang, direnggut. Mutlak sudah ketidakpahaman saya kepada manusia.

Semoga Tuhan mengampuni.
Semoga Tuhan menjaga Intan yang lain.
It is not God who kills the children.
Not fate that butchers them or destiny that feeds them to the dogs.
It’s us, only us.
- Rorschach

 That's all.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar :D

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe